Strategi PA

February 11, 2019 | Author: agusgirsang | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download Strategi PA...

Description

STRATEGI DAN METODE PEMBERDAYAAN PENDALAMAN ALKITAB Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 17 Januari 2006  Yakub Tri Handoko, M. Th.

Pengajaran merupakan salah satu pelayanan utama yang dilakukan Yesus selain kotbah. Keduanya bahkan beberapa kali muncul bersamaan dalam satu ayat (Mat 4:23; 9:35; 11:1; Kis 4:2; 28:31), dengan demikian menunjukkan keterkaitan antara dua aktifitas tersebut. Fakta bahwa “mengajar” diletakkan di depan kata “memberitakan Injil” dan “menyembuhkan” di dalam Matius 4:23 4:23 menunjukkan bahwa mengajar merupakan 1 pelayanan Yesus yang sangat penting. Kata “mengajar dalam kitab-kitab Injil dipakai untuk  Yesus sekitar 50 kali. Yesus pun dipanggil dengan sebutan “guru” dalam frekwensi yang hampir sama. Sebelum Yesus terangkat ke surga, Ia tidak lupa menyinggung masalah pengajaran (Mat 28:20). Tidak heran, heran, pengajaran tetap menjadi prioritas pelayanan bagi para 2 rasul, bapa-bapa gereja, bahkan tokoh-tokoh Kristen pada era sesudahnya. Salah satu peninggalan gereja mula-mula yang membuktikan keseriusan mereka terhadap pengajaran 3 adalah buku didache. Keagungan “pengajaran” dalam sejarah gereja ternyata – secara relatif dapat dikatakan - tidak  segemilang dalam situasi gereja sekarang. Hal ini tentu saja sangat disayangkan, karena tersedianya Alkitab dalam jumlah cukup dan dalam bahasa sehari-hari merupakan anugerah yang harus disyukuri. Gereja selama berabad-abad pernah menutup akses bagi jemaat awam untuk membaca Alkitab dalam bahasa yang bisa dimengerti. Situasi ini berubah seiring dengan roda reformasi yang digulirkan Martin Luther pada abad ke-16. Salah satu karya Luther yang signifikan adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Jerman sehari-hari. Pelajaran sejarah ini seharusnya membuat gereja lebih bersungguh-sungguh memperhatikan 4 pengajaran. Berikut ini adalah beberapa fenomena yang mencerminkan situasi di atas: 1. Pengajaran cenderung dipisahkan dipisahkan dari pelayanan gereja dan menjadi wilayah sekolah teologi. 2. Pengajaran cenderung hanya ditujukan pada mereka yang akan menjadi aktifis pelayanan pelayanan 3. Pengajaran di beberapa gereja bahkan tidak tidak ada sama sekali. Gereja hanya menaruh menaruh perhatian pada pelayanan kotbah.

1

skw” in Theological Dictionary of the New Testament Vol. II: D-H  (ed. by Gerhard Rengstorf, “dida,skw Kittel; Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1964), 139. 2 Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, lihat Joseph A. Grassi, Teaching the Way: Jesus, the  Early Church and Today (Washington: University Press of America, 1982) atau Elias Matsagouras, The Early Church Fathers as Educators (Minneapolis: Light and Life Publishing Co., 1977). Untuk sejarah singkat dari   jaman Perjanjian Lama sampai modern, modern, lihat Clifford V. Anderson, “Christian Education in Historical Perspective” in  Introduction to Biblical Education (ed. by Werner C. Graendorf; Chicago: Moody Press, 1981), 36-52.. 3  Didache membahas tentang berbagai aspek doctrinal, kehidupan praktis dan tata gereja. Dokumen ini menurut para sarjana dimaksudkan untuk mereka yang akan dibaptis maupun menjadi anggota gereja. Lihat Michael W. Holmes, ed., The Apostolic Fathers: Greeks Texts and English Translation (Grand Rapids: Baker Books, 1999), 246-247. Untuk isi didache secara keseluruhan dalam bahasa Yunani dan terjemahan Inggrisnya, lihat halaman 250-269. 4 Jim Wilhoit and Leland Ryken,  Effective Bible Teaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1988), 37-39.

1

4. 5. 6. 7.

Pengajaran di gereja umumnya diikuti kurang dari 50% jemaat dewasa Pengajaran di gereja tidak ubahnya seperti kotbah di hari Minggu Pengajaran di gereja pada umumnya tidak terencana maupun sistematis. 5 Durasi katekisasi semakin lama semakin pendek. Beberapa gereja bahkan tidak  mengadakan katekisasi sama sekali.

Perubahan Paradigma: Sebuah Wacana

Sebelum pembahasan tentang kendala, strategi dan metode Pendalaman Alkitab, satu hal 6 yang perlu dibahas adalah penyamaan konsep tentang “Pendalaman Alkitab.” Apa dan bagaimana yang dimaksud dengan “Pendalaman Alkitab” (selanjutnya disingkat PA)? Bagan berikut ini menunjukkan keberagaman konsep tentang PA. Cakupan

Orientasi

Setting Tempat Pendengar Cara presentasi

Penyelidikan teks Alkitab. PA biasanya berbentuk eksposisi 7 per kitab atau teksteks yang tidak (kurang) terorganisir Kognitif. PA dimengerti hanya sebagai wahana untuk menambah pengetahuan

Lebih luas. PA bisa membahas hal-hal yang bersifat doktrinal, kontemporer, praktis, dan lain-lain. Holistik. PA juga ditujukan untuk  perubahan karakter dan pertumbuhan kerohanian. Khusus PA Ibadah. PA dianggap sebagai salah satu bagian dari ibadah. Gereja Rumah Jumlah banyak dengan satu pengajar Jumlah lebih kecil dengan beberapa pengajar. Monolog. Pengajar menyampaikan materi Dialog, interaksi, diskusi, dan lain-lain. setelah itu baru ada tanya jawab. Ia Pendengar diberi panduan berupa biasanya tidak memberikan bahan kepada penjelasan singkat atau pertanyaan pendengar. terencana dan mereka dilibatkan secara aktif untuk bersama-sama menemukan  jawaban. Mereka juga diberi kesempatan untuk membuat refleksi dan menyampaikan sharing seputar topik  yang dibahas.

Untuk memilih pemahaman mana yang lebih tepat, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Pengajaran Yesus

Metode pengajaran harus terus berkembang sesuai tuntutan jaman, tetapi kebenaran ini tidak  berarti penghapusan segala sesuatu yang lama/tradisional. Dalam kaitan dengan pengajaran Kristiani, pengajaran Yesus harus tetap menjadi prinsip yang tidak tergantikan, walaupun hal ini juga tidak berarti pengimitasian secara total. Berikut ini adalah hasil penyelidikan tentang 5

Katekisasi adalah aktifitas pengajaran yang dikhususkan untuk mereka yang akan dibaptis. Bahasa yang dipakai biasanya dalam bentuk tanya jawab tentang berbagai pelayanan rohani. Kata ini berasal dari bahasa Yunani kathcew yang berarti “menginstruksikan.” Katekisasi mendapat prioritas pada jaman bapa-bapa gereja dan Reformasi. Lihat, D.F. Wright, “Catechism” in  Evangelical Dictionary of Theology (ed. by. Walter A. Elwell; Carlisle/Grand Rapids: Paternoster Press/baker Books, 1984), 195-198. 6 Orang memakai istilah yang berbeda untuk Pendalaman Alkitab yang menyiratkan pemahaman mereka tentang aktivitas ini, misalnya Penyelidikan/Penelitian Alkitab, Bible Study, Bible Class, Penelitian Alkitab, Pemuridan, dan lain-lain. 7 Para sarjana berbeda pendapat tentang definisi ‘eksposisi.’ Dalam tulisan ini, eksposisi dipahami sebagai pembahasan kata per kata atau ayat per a yat secara berurutan.

2

pemunculan kata “mengajar” (didaskw) yang dikenakan kepada Yesus dalam kitab-kitab Injil. Cakupan

Orientasi Setting Tempat Pendengar Cara presentasi

penyelidikan kitab suci (Mat 4:23; 9:35; 13:54), etika (Mat 5:1-12), penginjilan (Mat 5:13-16), penyelidikan kitab suci (Mat 5:17-48), aktivitas keagamaan (Mat 6:1-18), harta (Mat 5:19-34), masalah sosial-politik (Mat 22:16; Luk 20:21-25), pernikahan (Mar 10:1-12), doktrinal (Mar 12:25-27; Yoh 6:53-59) aspek afektif dan motorik (Mat 7:24-29), kognitif yang berujung pada motorik  (Mar 4:1-2 band. ayat 11-13; 8:31, 34-38) bagian dari ibadah di synagoge (Mat 4:23; 9:35; 13:54; Mar 1:21; 6:2, 6, 34), khusus pengajaran (Mat 5-7; Mar 10:1; Luk 5:3), doa (Luk 11:1) synagoge (Mat 4:23; 9:35; 13:54; Mar 1:21; 6:2, 6, 34), tempat terbuka (Mat 5:1-2 sampai 7:29; Mar 2:13; 4:1), Bait Allah (Mat 21:23; 26:55; Mar 11:17) kumpulan orang banyak (Mat 5:1-2; Mar 10:1; 11:17), 12 murid (Mar 8:31; 9:31; Luk 11:1) tanya jawab (Mar 4:1-2 band. ayat 10), diskusi (Mar 12:35-37; Luk 20:1-8), monolog (Mat 5-7)

 Amanat Agung

Istilah “Amanat Agung” merujuk pada perintah Yesus terakhir di Matius 28:19-20. Berbeda dengan interpretasi sebagian orang yang cenderung mengaitkan Amanat Agung dengan penginjilan, struktur kalimat Yunani dari teks ini justru menempatkan “jadikanlah segala bangsa murid” sebagai induk kalimat, dengan demikian frase tersebut menjadi inti dari 8 Amanat Agung. Tiga kata kerja lainnya – pergi, baptis dan ajarkan – hanyalah anak kalimat (participle) yang menerangkan bagaimana cara menjadikan seseorang menjadi murid. Kebenaran ini membawa beberapa implikasi bagi PA (dalam arti pengajaran). Pertama, tujuan akhir PA bukan hanya impartasi pengetahuan (kognitif), tetapi perubahan seluruh aspek hidup seseorang. Dalam konteks kultur waktu itu, murid lebih mengacu pada “pengikut”. Seorang murid dituntut untuk hidup bersama-sama dengan gurunya, meniru 9 ajaran dan gaya hidup guru tersebut. Kedua, PA harus terkait dengan aktivitas gereja yang lain. PA hanyalah salah satu elemen dari upaya memuridkan seseorang. Dengan kata lain, pelaksanaan PA harus berhubungan, sesuai dan berkesinambungan dengan aktivitas yang lain, misalnya penginjilan (“pergilah”), sakramen (“baptislah”), dll. Ketiga, PA menuntut kualitas pengajar yang baik. Perintah untuk mengajar memang bukan hanya ditujukan pada 10 11 murid Tuhan Yesus saja, namun hal ini bukan berarti sembarang orang bisa mengajar. Orang yang mengajar harus sudah belajar lebih dahulu untuk menjadi murid Yesus (dalam 11 arti mengetahui dan menaati ajaran Yesus). 8

D. A. Carson, “Matthew” dalam  Expositor’s Bible Commentary on the New Testament , ed. by Frank  E. Gaebelein. Zondervan Reference Software; Robert H. Gundry,  Matthew: A Commentary on His Handbook  nd  for a Mixed Church under Persecution (2 ed., Grand Rapids: Wm. B. Eedrmans Publishing Company, 1994), 596. 9 Lihat Grassi, Teaching the Way , 14-24. 10 Walaupun perikop Mat 28:16-20 hanya menceritakan tentang Yesus dan 11 murid (band. ayat 16), namun teks memberi indikasi jelas bahwa Amanat Agung juga ditujukan pada setiap orang percaya: (1) target Amanat Agung adalah segala bangsa, sehingga secara manusia “mustahil” untuk dicapai melalui 11 orang saja; (2) penyertaan yang dijanjikan Tuhan berlaku sampai kesudahan jaman, bukan selama para rasul hidup. 11 Menurut struktur kalimat Yunani ayat 19, frase maqhteusate panta ta eqnh seharusnya diterjemahkan “muridkanlah segala bangsa” (tanpa kata “Ku”; lihat  mayoritas versi Inggris). Dengan demikian, setiap orang Kristen memiliki tugas untuk menjadi orang lain murid mereka (bukan murid Tuhan Yesus), sebagaimana mereka telah menjadi murid Tuhan Yesus (band. 1Kor 11:1).

3

Pengajaran dalam gereja mula-mula

Seperti telah disinggung sebelumnya, para rasul tetap menganggap pengajaran sebagai prioritas pelayanan mereka selain kotbah (Kis 4:2; 15:35; 28:31). Mereka bahkan rela menderita demi pengajaran (Kis 4:2, 18; 5:21, 28). Ada beberapa hal yang perlu dicermati dari cara para rasul memahami pengajaran. Pertama, mereka melakukan pengajaran secara intensif (Kis 2:42; 5:42). Kedua, mereka melakukan pengajaran tidak terbatas pada “gereja” (Bait Allah atau synagoge, band. 2:42; 20:20). Ketiga, mereka komprehensif dalam mengajarkan iman Kristen. Paulus yakin bahwa ia tidak pernah lalai mengajarkan semua hal yang berguna bagi kehidupan Kristiani jemaat di Efesus (Kis 20:20). Keempat, mereka menggunakan berbagai metode, misalnya dialog (Kis 19:9; NIV/NASB, dari akar kata Yunani dialegomai), monolog (Kis 17:19-33), penyelidikan Alkitab secara induktif (Kis 17:11). Kelima, mereka menuntut kriteria tertentu bagi seorang pengajar: memiliki karunia mengajar (Rom 12:7), memiliki teladan hidup (1Kor 4:17), berhikmat (Kol 1:28; 3:16), memiliki ketrampilan mengajar (2Tim 2:2), memiliki motivasi yang benar (Tit 1:11), menguasai iman Kristen (2Tes 2:15; Ibr 5:12), m engandalkan Roh Kudus (1Yoh 2:27). Strategi Pemberdayaan PA

Berdasarkan penjelasan yang mendasar dan teknis seperti tersebut di atas, gereja perlu 12 mengimplementasikan prinsip Alkitab tersebut ke dalam bentuk strategi dan metode PA. Berikut ini adalah beberapa strategi yang perlu dipikirkan untuk memberdayakan PA dalam 13 gereja lokal.  Menciptakan atmosfir pengajaran

Gereja perlu menciptakan atmosfir pengajaran supaya jemaat memahami dan menangkap kesan bahwa pengajaran merupakan prioritas pelayanan maupun keunikan gereja tersebut. Ada beberapa langkah praktis yang bisa ditempuh: (1) Melalui kotbah. Hamba Tuhan yang menekankan penyelidikan teks dalam kotbahnya (bukan hanya kesaksian, ilustrasi maupun aplikasi) akan mampu meningkatkan apresiasi dan pengetahuan jemaat terhadap studi Alkitab. Selain itu, kotbah yang berbobot dengan sendirinya akan membuat jemaat terbiasa dengan materi PA yang agak berat. Hamba Tuhan juga perlu menyampaikan kotbah secara berseri tentang pentingnya PA, dengan pemahaman bahwa hanya Firman Tuhanlah yang bisa membuat jemaat mencintai Alkitab. (2) Melalui perpustakaan. Keberadaan perpustakaan memiliki fungsi: 1) menciptakan kesan sebagai teaching church; 2) membuat pengetahuan Alkitab jemaat tidak hanya bergantung pada PA maupun kotbah, dengan demikian bisa meringankan beban hamba Tuhan. 12

Dalam tulisan ini istilah “strategi” dipahami secara lebih luas daripada “metode”. Strategi menyakut rencana makro yang tersusun dengan rapi, sedangkan metode merupakan langkah-langkah konkret dan praktis dalam menjalankan PA. 13 Mengingat gereja-gereja di bawah naungan GPPS situasinya sangat beragam, strategi (dan juga metode) yang ditawarkan dalam tulisan ini sengaja dirancang untuk gereja yang situasinya ideal. Dalam beberapa hal tulisan ini tentu saja bisa diaplikasikan ke dalam berbagai situasi gereja, tetapi dalam beberapa bagian modifikasi sangat diperlukan.

4

(3)

(4)

Melalui pelayanan literatur. Gereja seharusnya memanfaatkan majalah dinding, warta jemaat maupun tulisan lainnya untuk membahas suatu topik secara menarik dan berbobot. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan membuat inti sari suatu buku yang relatif masih baru (sebuah resensi sangat direkomendasi). Melalui promosi PA. Jemaat seringkali “mengabaikan” PA ataupun - seandainya datang - mereka belum melihat kekhususan acara tersebut dibandingkan dengan acara-acara lain di tengah minggu. Melalui selebaran khusus, penempelan poster, pengiriman surat undangan, penjelasan lisan dalam pengumuman gereja secara terus-menerus, jemaat akan mendapat kesan betapa pentingnya sebuah acara PA. Dalam rangka promo ini, gereja perlu menjelaskan keistimewaan PA yang akan dilakukan. Gereja juga perlu menarik  minat jemaat untuk datang melalui kalimat-kalimat yang menarik, misalnya “Apakah bumi ini berusia jutaan tahun atau sekitar 6 tahun?: Temukan jawabannya pada PA minggu ini!. Tema: Dokrin Penciptaan dan Ilmu Pengetahuan”, “Kalau Allah memang baik, mengapa ada penderitaan dalam dunia?”, “Reality show yang berbau mistis: bagaimana sikap orang Kristen seharusnya?”, “Eksposisi Surat Roma: Pengungkapan Salah Satu Surat Paulus yang Paling Berpengaruh”.

 Membuat kurikulum

Pembuatan kurikulum merupakan bagian yang paling penting dalam strategi pemberdayaan PA, karena kurikulumlah yang menentukan arah PA. Melalui kurikulum gereja “didorong” untuk memiliki arah yang jelas dan rencana yang sistematis serta rapi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kurikulum. (1) Hubungan PA dengan aktivitas gereja yang lain. Beberapa gereja seringkali sibuk dengan berbagai kegiatan setiap hari. Tidak jarang tingkat keaktifan seorang jemaat dalam berbagai acara tersebut dianggap sebagai indikasi tingkat kerohanian. Gereja seharusnya mengacu pada tujuan utama seluruh kegiatan gereja, yaitu “menjadikan setiap orang murid Kristus secara pribadi dan holistik”. Dengan demikian, gereja harus mampu menampilkan keunikan dan efektifitas PA dalam mencapai tujuan tersebut. Seandainya perlu, kegiatan yang kurang signifikan bisa ditiadakan dan digabung dalam format PA yang lebih efektif. (2) Visi dan program gereja lokal. Apakah yang menjadi visi dan program gereja dalam kurun waktu tertentu? Bagaimana materi dan pelaksanaan PA bisa membantu gereja merealisasikan visi tersebut? Apakah materi PA yang diberikan sesuai dengan tema kotbah minggu/bulan itu? Sesuai dengan program khusus gereja yang sedang dilakukan? ( lihat lampiran 1) (3) Situasi jemaat. Bagaimana pemetaan segmentasi jemaat di gereja? Pendataan ini sebaiknya meliputi persentasi usia, tingkat pendidikan, tingkat kerohanian (walaupun agak subjektif) dan geografi (untuk menentukan pilihan tempat PA). (4) Cakupan topik yang komprehensif dan berhubungan dengan Alkitab. 14 Topik yang ditawarkan dalam periode tertentu seharusnya bersifat luas, dari doktrin, 15 sejarah, eksposisi kitab secara berseri, penyelidikan topikal, penyelidikan teks-teks 16 17 tertentu yang sulit, etika, dll. 14

Saya paling merekomendasikan seri buku Teologi Sistematika karya Louis Berkhof yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta. Untuk yang lebih sederhana adalah buku Charles C. Ryrie, Teologi Dasar Jilid 1 dan 2, terbitan Yayasan Andi, Yogyakarta.

5

(5)

Tingkat kesulitan dan pengaturan topik. Alkitab membedakan antara makanan ringan dan makanan keras (Ibr 5:12-13), ajaran dasar dan ajaran lanjut (Ibr 6:1-2). Ketidaksiapan seseorang mendengarkan ajaran yang berat bisa berpotensi menggoyahkan “iman” mereka (Yoh 6:60-71). Gereja harus menyusun kurikulum yang memakai tahapan-tahapan tertentu. (6) Hermeneutik (ilmu tafsir) sederhana. Mengingat fokus dan dasar PA adalah Alkitab sendiri, jemaat perlu dibekali dengan cara memahami Alkitab yang benar dan sederhana. Mereka tidak dituntut untuk  18 menguasai, namun hanya perlu memahami prinsipnya saja. Penyelidikan Alkitab 19 secara sederhana hanya membutuhkan kedisiplinan, kecermatan dan konkordansi. Sebagai tambahan, jemaat juga perlu memahami isi Alkitab secara keseluruhan, 20 beberapa kesalahan penafsiran maupun otoritas Alkitab. Selain itu, jemaat juga perlu diperkenalkan cara menafsirkan Alkitab yang kreatif da n sederhana tanpa meninggalkan 21 prinsip dasar yang ada, misalnya penelitian biografi, karakter, dsb. (7) Tantangan kontemporer. Pertanyaan krusial apa yang sedang dipikirkan oleh jemaat sekarang ini? Apa pendapat  jemaat tentang hal/fenomena baru yang sedang terjadi? Setelah mempertimbangkan aspek-aspek tersebut di atas, gereja perlu menyusun topik PA yang terencana, saling berkesinambungan dan efektif. Beberapa gereja memakai berbagai buku panduan PA yang sudah diterbitkan. Walaupun usaha ini dalam kapasitas tertentu dianjurkan, namun harus memperhatikan keuntungan dan kerugian pemakaian kurikulum 22 yang dibuat oleh orang lain.

15

Beberapa buku pengantar yang sudah ada dalam bahasa Indonesia antara lain ditulis oleh Van Den End ( Harta dalam Bejana dan  Ragi Cerita Jilid 1 dan 2), H. Berkhof ( Sejarah Gereja) dan Tony Lane ( Runtut  Pijar ). Semua buku tersebut diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta. Sesuai dengan konteks PA, pengajaran historis ini harus melibatkan evaluasi biblikal atas apa yang telah terjadi dalam sejarah. 16 Lihat seri buku Ucapan Yang Sulit yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, karangan Walter C. Kaiser ( Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Lama ) atau Peter H. Davids ( Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Baru). 17 Buku yang paling saya rekomendasikan ditulis oleh Norman L. Geisler,  Etika Kristen: Pilihan dan  Isu (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2000), karena membahas isu yang krusial dan kontemporer, memberikan jawaban yang jelas dan Injili. 18 Untuk tingkat jemaat, saya paling merekomendasikan Gordon D. Fee & Douglas Stuart,  Hermeneutik: Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat  (Malang: Gandum Mas, 1989). 19 Untuk konkordansi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, jemaat bisa memakai D. F. Walker, Konkordansi Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Khusus untuk Perjanjian Baru, Andhika Gunawan, Konkordansi Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Yayasan Andi, t.th.). Konkordansi terbaik dan terlengkap untuk Perjanjian Baru – tetapi membutuhkan sedikit bimbingan – adalah Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani – Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK): Jilid II (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003). 20 Buku pengantar yang baik dan sederhana tentang hal ini yang saya rekomendasikan adalah John. R. W. Stott,   Memahami Isi Alkitab (diterjemahkan oleh Paul Hidayat; Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 1989) atau R. C. Sproul, Pengenalan Alkitab (diterjemahkan oleh Nani Tjahjani; Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1994). 21 Untuk keterangan detil, lihat  Rick Warren,   Metode Pemahaman Alkitab yang Dinamis: 12 Cara Praktis Untuk Mempelajari dan Menerapkan Firman Allah dalam Kehidupan Anda (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1995). 22 Bagan ini dikembangkan dari Wilhoit dan Ryken,  Effective, 24-28; Lawrence O Richards, Creative  Bible Teaching (Chicago: Moody Press, 1970), 137-143.

6

Keuntungan Menghemat waktu persiapan hamba Tuhan Kualitas bahan yang relatif lebih berbobot Rencana pembelajaran yang menyeluruh dan baik Metode pembelajaran yang relatif lebih kreatif Kontinuitas dan kosistensi PA lebih terjamin

Kerugian Penguasaan bahan yang kurang Tidak memiliki koherensi dengan program gereja Belum tentu sesuai dengan situasi jemaat Harganya relatif mahal Buku panduan PA dalam bahasa Indonesia sangat terbatas dan kurang memadai Kadangkala ajaran dalam suatu buku bertentangan dengan keyakinan gereja lokal

Tidak menuntut pengajar yang istimewa dalam hal pengetahuan dan kreatifitas

Berdasarkan analisa di atas, gereja sebaiknya menggunakan berbagai buku panduan yang ada hanya sebagai pembanding dan tidak perlu mengikuti secara persis suatu buku. Gereja harus memodifikasi sumber yang ada sehingga efektif untuk mencapai tujuan khusus gereja lokal maupun tujuan pengajaran secara umum.  Menyiapkan tenaga pengajar 

PA tidak harus selalu dilakukan di gereja dalam konteks ibadah yang dihadiri jemaat dalam  jumlah besar. PA perlu juga dilakukan dalam konteks kelompok kecil yang lebih non formal. Untuk menangani berbagai kelompok yang ada, penyiapan tenaga pengajar merupakan sebuah keharusan. Ada dua hal yang mungkin bisa ditempuh: (1) Kaderisasi jemaat. Usaha ini dapat ditempuh melalui kelas intensif Alkitab dan berbagai pelatihan tentang pendidikan Kristen. Dengan melibatkan jemaat (terutama majelis), gereja juga telah memberikan tanggung jawab yang tepat (Alkitabiah) kepada majelis. Selain itu, kepemimpinan lokal (dari jemaat sendiri) sifatnya lebih permanen. (2) Rekrutisasi dan optimalisasi tenaga hamba Tuhan. Sebagian besar gereja kurang memperhatikan spesifikasi hamba Tuhan selama proses perekrutan. Pada akhirnya mereka dipercayakan bidang-bidang pelayanan yang kurang fokus dan sesuai dengan kapasitas mereka. Gereja perlu merekrut tenaga hamba Tuhan yang benar-benar terbeban dan bisa mengkoordinasi PA. Tenaga yang sudah ada sebaiknya mulai dioptimalkan melalui penyediaan kesempatan untuk memimpin PA dan pelatihan.  Membuat evaluasi

Perencanaan PA yang baik harus melibatkan proses evaluasi. Apakah tujuan major yang digariskan dalam kurikulum sudah tercapai? Bagaimana tanggapan jemaat dari sisi kualitas materi (bobot secara akademis, relevansi dengan situasi jemaat), kualitas pengajar (penguasaan materi dan cara penyajian yang jelas/menarik), situasi kelas, metode pengajaran yang dipakai (kreativitas dan koordinasi kelas), dll. Perubahan signifikan apa yang sudah dicapai jemaat, baik dari segi kognitif, afektif maupun motorik? Untuk menjamin objektifitas pendapat, evaluasi sebaiknya dilakukan dalam bentuk tertulis berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus diisi jemaat. Setelah mendapatkan data balik dari peserta, pengajar perlu mengorganisir dan menganalisa data tersebut, selanjutnya mencari solusi bagi kekurangan yang masih ada.

7

Metode Pemberdayaan PA

Metode PA sebenarnya sudah tercakup dalam kurikulum, namun pembahasan yang rinci tentang metode tetap perlu dipahami.  Menyiapkan tempat 

PA bisa dilakukan di gereja maupun di tempat lain, baik dalam jumlah kecil maupun besar. Seandainya dilakukan di gereja, sebaiknya tidak menggunakan ruang ibadah yang biasanya memiliki jumlah kursi lebih banyak daripada jumlah peserta PA. Situasi seperti ini bisa mengganggu daya konsentrasi dan interaksi antar peserta. Selain itu, situasi ini kurang menampilkan keunikan PA, karena suasananya sangat mirip dengan kotbah. PA lebih baik  dilaksanakan di ruangan tertentu (kelas). Seandainya dilakukan di rumah, sebaiknya dipilih rumah yang bersih, memiliki tata ruangan yang tepat, tata lampu yang memadai, posisi duduk  kelompok yang fleksibel dan tepat, nyaman untuk mendengarkan dan berinteraksi. Pemakaian tempat yang beragam juga bisa meminimalisasi kesan rutinitas, memberi kesan kreatif dan membawa suasana yang selalu segar.  Merencanakan kelas

Pelaksanaan PA yang baik mencakup 3 (t iga) elemen: interaksi dengan Allah, interaksi antara pengajar dan peserta, interaksi antar peserta. Berpijak pada elemen ini PA sebaiknya dirancang sebagai berikut: DOA

IMPARTASI PENGETAHUAN

KETERLIBATAN PESERTA

DOA Penjelasan: (1) Doa merupakan sesuatu yang mutlak ada, karena pemahaman rohani merupakan pekerjaan Roh Kudus (Yoh 16:13; 1Kor 2:6-16). Kemauan dan kemampuan untuk taat pun merupakan pekerjaan Allah (Fil 2:12-13). Doa dalam PA sebaiknya pendek dan terarah sesuai dengan topik yang dibahas. (2) Impartasi pengetahuan yang berbentuk penjelasan (pengajaran). Tujuannya adalah untuk  menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diketahui jemaat melalui studi Alkitab mandiri mereka. Selain itu, pengajaran memberikan pondasi dan arahan bagi keterlibatan peserta PA.

8

(3) Keterlibatan peserta dalam belajar merupakan kunci keberhasilan sebuah proses 23 pengajaran. Walter Wink memberikan 3 (tiga) komponen penting tentang keterlibatan peserta: isu kritikal (mencari pengetahuan yang objektif menurut Alkitab = what did the text say?), amplifikasi (meleburkan diri ke dalam teks = what would I have felt or thought if I were in this situation?), aplikasi (mencari kebenaran universal dan 24 mengaplikasikannya dalam situasi hidup yang konkret = what should I do now?). (4) Bentuk keterlibatan peserta bisa bermacam-macam, misalnya tanya jawab, studi induktif  25 26 mandiri, diskusi, refleksi dan komitmen.  Menggunakan sarana dengan efektif 

Sistem pengajaran konvensional yang bersifat monolog dan hanya mengandalkan kemampuan audio (pendengaran) sebaiknya mulai dipertimbangkan. Teknologi telah memberi banyak kontribusi bagi pengembangan sistem pengajaran. Berikut ini adalah beberapa pemanfaatan sarana yang efektif: (1) Studi induktif mandiri terpimpin. Pengajar sebaiknya memakai OHP/LCD dan membagikan setiap materi yang disampaikan, karena belum tentu pendengar bisa memahami 100% apa yang disampaikan secara lisan dan dalam rentang waktu yang pendek. Dengan memiliki materi pengajar, peserta bisa terus berinteraksi dengan topik tersebut sampai mereka benar-benar paham. Materi yang diberikan sebaiknya juga dilengkapi dengan lembaran kerja untuk peserta yang berisi penjelasan singkat dan pertanyaan penuntun ( lihat lampiran 2). 27 (2) Analisa film. Ada 3 (tiga) jenis film yang menarik untuk dianalisa: film dokumenter tentang 28 29 kekristenan, film fiktif kekristenan dan film kontemporer yang mengajarkan isu-isu 30 tertentu. Dalam analisa film, peserta diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan: 1) pertanyaan apa yang ingin dikemukakan oleh film tersebut? 2) jawaban apa yang ditawarkan/konsep atau ajaran etika apakah yang ingin disampaikan dalam cerita? 3) bagaimana pendapat Alkitab tentang hal itu? Pengajar sebaiknya menonton film yang bersangkutan berkali-kali, lalu memberikan beberapa pertanyaan penuntun yang lebih detil. Jawaban dari pengajar sebaiknya dibagikan setelah peserta berdiskusi.

23

Keterlibatan di sini bukan hanya terkait dengan sebuah aktivitas, misalnya diskusi. Keterlibatan sejati melibatkan aspek kognitif, afektif dan motorik. Lihat, Murray, Teaching the Bible , 32. 24 Transforming Bible Study: A Leader’s Guide (Nashville: Abingdon Press, 1980), 39-40. 25 Studi induktif mandiri berarti peserta secara aktif terlibat dalam pencarian kebenaran (bukan hanya menerima “barang jadi”). Hal ini memiliki beberapa keuntungan: menimbulkan sukacita (karena menumbuhkan rasa pencapaian diri), memberi kesan lebih dalam, sulit dilupakan, menambah semangat untuk belajar lebih giat lagi. 26 Untuk pembahasan detil tentang cara memulai, membuat pertanyaan, memimpin dan mengevaluasi diskusi, lihat The Navigators,  Memimpin Kelompok Penelaahan Alkitab (diterjemahkan oleh Sri Wandaningsih; Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988). 27 Murray, Teaching, 95-101. 28 Beberapa VCD yang baik telah dijual secara bebas, misalnya tentang penemuan arkeologi Alkitabiah (misalnya In Search of Eden,  Bible and Dead Sea Scroll ), sejarah gereja (History of Christianity), tokoh Alkitab (The Passion of the Christ , Paulus), biografi tokoh Kristen terkenal ( William Carey), misi (  Anak Perdamaian, Transformations), dll. 29 Salah satu drama fiktif yang saya rekomendasikan berjudul The Final Exit . Film ini mengangkat tema “pembenaran dan keadilan Allah”. 30 Beberapa film mengusung tema yang bernuansa Kristen yang perlu dikritisi, misalnya  End of Days,  Armageddon, The Kingdom of Heavens , The Matrix.

9

(3) Evaluasi seminar dalam bentuk VCD/kaset. Berbagai VCD seminar kekristenan telah beredar, baik yang berisi pengajaran yang benar maupun salah. Peserta PA bukan hanya diajak mendapatkan informasi dari VCD tersebut, tetapi untuk berinteraksi: memberikan pendapat, evaluasi, refleksi dan apl ikasi. (4) Bedah buku/artikel. Beberapa buku populer bisa menjadi bahan menarik untuk dianalisa, misalnya  Bible Code,   Bukan Yesus Yang Saya Kenal, dll. Seandainya buku yang akan dibahas terlalu tebal, pengajar sebaiknya memberikan copy dari beberapa bagian yang penting. Beberapa tulisan Kristen di surat kabar juga perlu untuk dievaluasi, terutama yang ditulis oleh sarjana liberal, karena itu bisa menjadi wacana nasional.  Menyiapkan rencana pelajaran

Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menyiapkan rencana pelajaran untuk setiap pertemuan. Rencana yang baik minimal meliputi topik yang akan dibahas, tujuan dan sasaran, agenda pertemuan dan alokasi waktunya, metode pengajaran yang dipakai, aktivitas kelas dan non kelas (lihat lampiran 3) Konklusi

Memberdayakan PA dalam gereja merupakan tugas yang kompleks dan rumit. Gereja perlu mengadakan berbagai perubahan, baik yang menyangkut konsep, strategi maupun metode. Tugas ini tampaknya akan menjadi lebih mudah seandainya gereja memiliki tim kerja PA yang bertugas merencanakan, memimpin dan mengevaluasi acara PA. Kiranya tulisan ini bisa memotivasi, merangsang interaksi, memberi ide dan pedoman untuk memberdayakan PA dalam gereja. Bagi yang ingin memperkaya materi ini dalam bentuk pemberian masukan, saran dan kritik silahkan menghubungi penulis di 0321-690218 (K), 691552 (R), 690011 (Fax), 081-55055-985 (HP), [email protected] (email).

Pertanyaan untuk digumulkan

1. Apakah keunikan PA dibanding kegiatan gereja yang lain, misalnya kelompok sel, persekutuan doa, kebaktian, kelas intensif Alkitab (SLAM, SOM, dll.)? 2. Apakah kontribusi PA bagi pencapaian visi atau /pelaksanaan program suatu gereja? 3. Halangan terbesar apa yang gereja Anda hadapi dalam mengaplikasikan tulisan ini? Solusi apa yang sebaiknya diambil?

10

 Lampiran 1 CONTOH PERENCANAAN TOPIK PENDALAMAN ALKITAB DALAM SETAHUN 

Visi gereja Program gereja Topik PA

Menjadi Gereja Yang Misioner Seminar dan Pelatihan Misi, Mission Trip, Konser Doa Misi, Bakti Sosial Untuk mencetak gereja yang misioner harus melalui tahapan tertentu. Perencanaan topik PA harus progresif  mengarah pada tujuan tersebut. Dalam contoh ini perencanaan dibagi per triwulan: Triwulan I : Pengetahuan Doktrinal, Triwulan II : Misi Menurut Alkitab, Triwulan III : Misi dan Gereja, Twiwulan IV : Metode Misi dalam Alkitab

Bulan Januari

Bulan Februari

Penciptaan manusia Kejatuhan ke dalam dosa Asal mula iblis Dosa asal 1: dasar Dosa asal 2: akibat

Sifat-sifat dosa Keselamatan karena anugerah Kelahiran Baru Pertobatan

Bulan Mei

Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul

Iman Pembenaran Pengudusan Surga dan Neraka

Bulan Juni

Misi dalam masa intertestamental Studi kata “euangelion” di PB Penginjilan menurut Yesus Pelayanan sosial menurut Yesus Amanat Agung (Mat 28:19-20)

Bulan September

Bulan Maret

Misi dan doa Misi dan ibadah Misi dan Roh Kudus Misi dan pemuridan

Allah sebagai inisiator misi (Kej 3) Abraham sebagai alat (Kej 12:1-3) Kasus Yunus Orang non Yahudi dalam PL

Bulan Juli

Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul

Bulan Oktober

Penginjilan pribadi 1 (Yoh 4:1-42) Penginjilan pribadi 2 (Kis 8:26-40) Kontekstualisasi Injil 1: Yesus Kontekstualisasi Injil 2: Paulus

Bulan April

Bulan Agustus

Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul Eksposisi Kisah Rasul

Bulan November

Paulus dan synagoge Paulus dan kota besar Paulus dan rekan kerja Paulus dan jemaat

Bulan Desember

Perjalanan misi Paulus 1 Perjalanan misi Paulus 2 Perjalanan misi Paulus 3 Action!

11

 Lampiran 2 CONTOH MATERI STUDI ALKITAB INDUKTIF MANDIRI 

Topik

: Kejatuhan manusia ke dalam dosa

Teks

: Kejadian 3:1-24

1. Bacalah Kejadian 1-3 selama 15 menit! 2. Bacalah Kejadian 3 secara khusus (10 menit)! 3. Bacalah Kejadian 3 sekali lagi sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini! (1) Bagaimana cara iblis menjatuhkan Hawa berdasarkan ayat 1a, 1b dan 4-5? (2) Mengapa Hawa akhirnya jatuh ke dalam dosa? (ayat 2-3, 6) (3) Apakah reaksi manusia?  Ayat 7 (band. 2:25)

 Lampiran 2 CONTOH MATERI STUDI ALKITAB INDUKTIF MANDIRI 

Topik

: Kejatuhan manusia ke dalam dosa

Teks

: Kejadian 3:1-24

1. Bacalah Kejadian 1-3 selama 15 menit! 2. Bacalah Kejadian 3 secara khusus (10 menit)! 3. Bacalah Kejadian 3 sekali lagi sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini! (1) Bagaimana cara iblis menjatuhkan Hawa berdasarkan ayat 1a, 1b dan 4-5? (2) Mengapa Hawa akhirnya jatuh ke dalam dosa? (ayat 2-3, 6) (3) Apakah reaksi manusia?  Ayat 7 (band. 2:25)  Ayat 8-10  Ayat 12-13 (band. 2:18 dan 1:25) (4) Bedakan keadaan manusia di 3:16-19 dengan Kej 1-2!  Melahirkan anak?  Hubungan antara laki-laki perempuan?  Tanah?  Kehidupan manusia? (5) Apakah sisi anugerah dalam cerita ini?  Ayat 9 (band. Luk 19:10; Rom 3:10-12)  Ayat 15 (6) Bagaimana kaitan ayat ini dengan pemilihan Set, Nuh, Sem, Abraham, Ishak, Yakub dan Yehuda dalam kitab Kejadian? (7) Mengapa Allah mengganti pakaian dari daun dengan dari kulit binatang? (ayat 21) (8) Bagaimana pengaruh kejatuhan ini dalam cerita-cerita di Kejadian selanjutnya?  4:1-16  4:23-24  6:1-8  11:1-9 (9) Tuliskan 10 pelajaran rohani yang bisa diambil dari cerita ini! Jelaskan! (10) Pencobaan di bidang apa yang menurut Anda paling berat? Mengapa? (11) Bagaimana cerita ini bisa membantu kita ketika menghadapi pencobaan?

12

 Lampiran 3 CONTOH RENCANA PELAJARAN SETIAP PERTEMUAN 

Tanggal

: 14 Juli 2005

Tempat

: ruang kelas A

Jumlah kehadiran

: 100 orang

Topik

: Kontekstualisasi Injil 2 (Paulus)

Tujuan

: jemaat memahami bahwa PI membutuhkan metode tertentu  jemaat mengetahui cara ber-PI yang tepat

Sasaran

: jemaat tertantang untuk memahami situasi pendengar Injil  jemaat mampu melakukan kontekstualisasi dalam situasi tertentu

Metode

: penyampaian materi (monolog), diskusi dan simulasi

Agenda

: Doa (5 menit) Pembacaan Alkitab (10 menit) Penyampaian materi (30 menit) Diskusi kelompok (30 menit) Contoh simulasi (30 menit) Refleksi dan komitmen (10 menit) Doa (5 menit)

Aktivitas non kelas

: memberitakan Injil pada pengemis dan membuat laporan tentang itu

Pertanyaan untuk diskusi: 1. Pernahkah Anda merasa kesulitan dalam memulai PI? Mengapa? 2. Apa yang dilakukan oleh Paulus sebelum ia memberitakan Injil di Athena? 3. Bagaimana respon Paulus pertama kali terhadap cara ibadah mereka? 4. Titik temu apa yang dipakai Paulus sebagai jembatan Injil? 5. Tuliskan 3 pelajaran yang dapat diambil dari teks ini! Evaluasi 1. Situasi kelas dan konsentrasi peserta 2. Penyajian materi dan daya tangkap peserta 3. Tingkat keterlibatan peserta 4. Tingkat relevansi materi

80 75 90 80

Catatan: ringkasan hasil diskusi semua kelompok sebaiknya dilampirkan di belakang rencana pelajaran hari ini. Simpan rencana pelajaran ini sebagai bahan evaluasi tiap periode tertentu.

13

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF An American in Texas | Fred T. Gallo | Fotoalben