11 Indikator Qps Klinik 2013_draft

February 10, 2019 | Author: Dewa Agung Rat | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

New...

Description

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 1 : Asesmen evaluasi pasien Related to JCI’s Library Of Measures, I-STK-10 : Isch Is chem emic ic or he hemo morr rrha hagi gic c st stro roke ke pa pati tien ents ts wh who o we were re assessed for rehabilitation services  JUDUL INDIKATOR Pasien Pasien stroke stroke ischemic dan hemorrhagic yang yang telah telah TIPE INDIKATOR  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

dikaji untuk mendapatkan pelayanan rehabilitasi Struktur Outcome Proses & Outcome √ Proses Mengidentifikasi kualitas pelayanan pasien stroke yang dihubungkan dengan penanganan pasien stroke dengan pelayanan rehabilitasi Stroke hemorrhagic adalah sebuah perdarahan non-traumatik intraserebral, perdarahan subarachnoid atau hemoragik infark Stroke ischemic adalah defisit neurologis terukur onset mendadak, dianggap seku sekund nder er berf berfok okus us iske iskemi mia a otak otak,, dan dan buka bukan n dise diseba babk bkan an perd perdar arah ahan an intraserebral (ICH) atau proses penyakit lain. Gangguan cerebrovascular ini disebabkan disebabkan oleh kekurangan kekurangan aliran aliran darah ke area otak, umumnya sebagai akibat trombosis, emboli, atau berkurangnya tekanan darah. Beberapa bukti klinis menunjukkan outcome klinis yang lebih baik ketika pasien pasien stroke stroke dirawa dirawatt dengan dengan model model perawa perawatan tan yang yang terkoo terkoordi rdinas nasii dan memb member erik ikan an pela pelaya yana nan n mult multid idis isip ipli lin n yang yang berk berkai aita tan n deng dengan an stro stroke ke.. Interv Intervens ensii rehabi rehabilit litasi asi yang yang efekt efektif if perlu perlu diinis diinisias iasii lebih lebih awal awal mengin mengingat gat pelayanan pelayanan stroke stroke dapat dapat meningkatk meningkatkan an proses proses recovery  dan meminimalkan kecaca kecacatan tan.. Tujuan Tujuan utama utama rehabi rehabilit litas asii pada pada pasien pasien stroke stroke adalah adalah untuk untuk meminimalkan komplikasi, kecacatan, dan memaksimalkan fungsi.  Jumlah pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang telah telah mendapat mendapat pelaya pelayanan nan rehabi rehabilit litasi asi dalam dalam satu satu bulan bulan (oran (orang) g) : Jumlah Jumlah pasien pasien stroke stroke ischemic dan hemorrhagic yang berusia ≥ 18 tahun dalam bulan yang sama (orang) x 100%  Jumlah pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang telah telah mendapat mendapat pelayanan rehabilitasi dalam satu bulan  Jumlah pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang berusia ≥ 18 tahun dalam bulan yang sama 100% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam rek am medis medis pasien pasien dengan dengan ischemic atau hemorrhagi hemorrhagic c stroke stroke setelah pasien keluar rumah sakit. Pasien dengan ischemic atau hemorrhagic stroke sesuai sesuai dengan dengan prinsip prinsip pengkodingan diagnosa ICD seperti dijelaskan pada Apendiks A, tabel 8.1 atau 8.2 Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun Pasien yang pulang paksa Pasien yang meninggal Pasien yang menjalani intervensi carotid elektif  Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setelah pasien keluar dari Rawat Inap untuk semua pasien stroke. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapi Rekapitul tulasi asi dan analis analisa a sederh sederhana ana dilaks dilaksana anakan kan oleh oleh Kepala Kepala Ruangan Ruangan Rawat Rawat Inap sebagai informasi informasi awal untuk unit masing-masing, masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Instalasi Rawat Inap, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjam Penjamina inan n Mutu Mutu dan Direk Direksi. si. Secara Secara umum umum data data akan akan dieval dievaluas uasii serta serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Ruangan Rawat Inap Bidang Pelayanan Medis • • • •

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

QPS Klinik 9

FORMAT PENCATATAN

NO

 TGL MR S

NAMA / TL

NO. RM

DIAGNOSA MEDIK 

DILAKUKAN REHABILITASI MEDIS (ya/tidak)

 TANGGAL DILAKUKAN MULAI REHABILITASI MEDIS

1

2

3

4

5

6

7

KET

1 2 3

Validasi

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 2 : Layanan laboratorium  JUDUL INDIKATOR Waktu Tunggu Hasil Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik  Pemeriksaan Darah lengkap dan Kimia klinik  TIPE INDIKATOR Struktur Proses Outcome √ Proses & Outcome  TUJUAN Tergambarnya kecepatan pelayanan laboratorium patologi klinik DEFINISI Pemeriksaan laboratorium patologi klinik yang dimaksud adalah OPERASIONAL pelayanan pemeriksaan Darah lengkap dan Kimia klinik. Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium patologi klinik adalah tenggang waktu yang dibutuhkan mulai pasien diambil sample oleh petugas sampling sampai dengan hasil pemeriksaan yang sudah diekspertisi diterima di Loket Pengambilan Hasil yang diukur dalam satuan menit, untuk setiap pasien yang diperiksakan laboratorium Darah lengkap dan Kimia klinik. Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium patologi klinik pemeriksaan darah lengkap dan kimia klinik ini dipantau untuk pasien rawat jalan dan IGD, dengan standar waktu ≤140 menit. ALASAN/ IMPLIKASI/  Janji hasil pelayanan laboratorium khususnya patologi klinik RASIONALISASI merupakan gambaran menejemen peningkatan kualitas di unit laboratorium. Pelayanan penunjang sangat diperlukan untuk menegakan diagnosa yang tentunya harus dilakukan dalam waktu yang cepat. Berdasarkan pengalaman banyak keluhan dari dokter yang perlu waktu lebih lama untuk menerima hasil pemeriksaan laboratorium. FORMULA Jumlah pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dengan waktu tunggu hasil ≤140 menit (pemeriksaan) : Jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dalam satu bulan (pemeriksaan) x 100% = ___% NUMERATOR Jumlah pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dengan waktu tunggu hasil ≤140 menit dalam satu bulan (pemeriksaan) DENOMINATOR Jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dalam bulan yang sama (pemeriksaan)  TARGET ≥ 90% SAMPLING Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat/observasi seluruh pemeriksaan darah lengkap dan kimia klinik ini dipantau untuk pasien rawat jalan dan IGD KRITERIA INKLUSI Seluruh pemeriksaan darah lengkap dan kimia klinik ini dipantau untuk pasien rawat jalan dan IGD KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh petugas laboratorium patologi klinik. ANALISA & Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala PELAPORAN Instalasi Laboratorium Patologi Klinik sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit QPS Klinik 9

AREA PIC

Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Laboratorium Patologi Klinik Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik

FORMAT PENCATATAN NO

1

   L    A    G    G    N    A    T

2

NAMA PASIEN

NO. RM

 JENIS PEMERIKSAAN

 JAM SAMPEL DIAMBIL (Pk. __.__ WITA)

 JAM HASIL DITERIMA LOKET HASIL (Pk. __.__  WITA)

RENTANG WAKTU KOLOM 6 & 7 (menit)

KET

3

4

5

6

7

8

9

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 3 : Layanan radiologi dan pencitraan diagnostic Related to JCI’s Library Of Measures, I-AMI-3 :  ACEI (angiotensin converting enzyme inhibitor) or ARB (angiotensin receptor blocker)for patients who have LVSD (Left Ventricular Systolic Dysfunction) after having an (AMI) acute myocardial infarction  JUDUL INDIKATOR ACEI (angiotensin converting enzyme inhibitor ) or ARB (angiotensin receptor blocker ) untuk pasien yang menderita LVSD ( Left Ventricular Systolic Dysfunction ) setelah mengalami AMI ( acute myocardial infarction ) TIPE INDIKATOR Struktur Outcome Proses & Outcome √ Proses Mengetahui kualitas pelayanan radiologi dalam memberikan gambaran LVSD  TUJUAN

DEFINISI OPERASIONAL ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING

(Left Ventricular Systolic Dysfunction) sehingga penanganan pasien AMI dengan ACEI (angiotensin converting enzyme inhibitor ) or ARB (angiotensin receptor blocker ) dapat dilakukan dengan tepat Definisi dari indikator ini adalah jumlah pasien AMI yang diresepkan ACEI atau ARB saat keluar/pulang dari rumah sakit, yang dapat dilihat melalui rekam medis pasien (data sekunder) Inhibitor ACEI mengurangi angka kematian dan kesakitan pada pasien dengan left ventricular systolic dysfunction (LVSD) setelah mengalami AMI. Percobaan klinis telah menguji terapi ARB sebagai terapi alternatif ACEI, terutama pada pasien gagal jantung dan/atau pasien dengan LVSD yang intoleran terhadap ACEI Pedoman klinis sangat merekomendasikan ACEI untuk pasien yang dirawat dengan AMI yang mengalami gagal jantung secara klinis atau LVSD. Pedoman Umum juga mendukung penggunaan ARB untuk pasien AMI  Jumlah Pasien AMI yang diresepkan ACEI atau ARB saat keluar/pulang dari rumah sakit dalam satu bulan (orang) : Jumlah Pasien AMI dengan LVSD yang berusia ≥ 18 tahun dalam bulan yang sama (orang) x 100%  Jumlah Pasien AMI yang diresepkan ACEI atau ARB saat keluar/pulang dari rumah sakit dalam satu bulan  Jumlah Pasien AMI dengan LVSD yang berusia ≥ 18 tahun dalam bulan yang sama 100% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam medis pasien AMI dengan LVSD keluar dari rumah sakit. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis.

QPS Klinik 9

KRITERIA INKLUSI

KRITERIA EKSKLUSI

Pasien dengan AMI sesuai dengan prinsip pengkodingan diagnosa ICD-9/ICD10 seperti dijelaskan pada Apendiks A, tabel 1.1 dan dokumentasi chart LVEF yang kurang dari 40% atau deskripsi naratif fungsi LVS yang konsisten dengan disfungsi sistolik moderate atau berat. Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun Pasien pulang paksa Pasien meninggal Pasien dengan dokumentasi  Alasan Tanpa ACEI or ARB saat keluar  /  pulang dari rumah sakit . Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala ICCU, IRD, IRNA setelah pasien keluar dari rumah sakit. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala ICCU, IRD, IRNA sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu • • • •

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

FORMAT PENCATATAN

ICCU, IRD, IRNA Bidang Pelayanan Medis NO

 TG L

NAMA / TL

NO. RM

DIAGNOSA MEDIK 

 TANGGAL/JAM KRS

DIRESEPKAN ACEI ATAU ARB SAAT KRS (ya/tidak)

1

2

3

4

5

6

7

KET

1 2 3 Validasi

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 4 : Prosedur-prosedur bedah Related to JCI’s Library Of Measures, I-PC-02 : Nulliparous women with a term, singleton baby in a vertex position delivered by cesarean section  JUDUL INDIKATOR Persentase tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup TIPE INDIKATOR Struktur Proses Proses & Outcome √ Outcome Untuk mengetahui kualitas pelayanan kehamilan pada primigravida usia  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup Sectio Caesarea (SC) adalah tindakan bedah untuk mengeluarkan janin melalui sayatan pada dinding perut dan dinding rahim,tidak termasuk pengangkatan janin dari rongga perut dalam kasus pecahnya rahim atau kehamilan perut. Primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup adalah ibu dengan kehamilan pertama kali yang usia kehamilannya mencapai 37-42 minggu serta dengan posisi bayi normal tanpa komplikasi, satu bayi dan dapat dilahirkan dengan spontan. Penelitian menunjukkan bahwa apabila kelahiran dipaksakan saat cervix belum siap, maka outcomenya akan buruk. Faktor dokter merupakan pemicu utama adanya perbedaan angka kelahiran anak pertama dengan induksi dan angka admisi kelahiran prematur anak pertama dibanding faktor karakteristik pasien atau diagnosa obstetrik.

QPS Klinik 9

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

 Jumlah tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam satu bulan (tindakan) : Jumlah seluruh primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam bulan yang sama (orang) x 100%  Jumlah tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam satu bulan  Jumlah seluruh primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam bulan yang sama ≤10% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam medis seluruh pasien yang dilakukan Sectio Caesarea (SC). Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Prinsip pengkodingan diagnosa ICD untuk tindakan Sectio Caesarea (SC) seperti dijelaskan pada Apendiks A, tabel 11.06 pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup. Prinsip pengkodingan diagnosa ICD untuk kontraindikasi terhadap persalinan per vaginal Kehamilan risiko tinggi dan kehamilan dengan i nduksi Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan VK IGD, VK WA dan IBS setiap pasien ada pasien Sectio Caesarea (SC). Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan VK  IGD, VK WA dan IBS sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu VK IGD, VK WA dan IBS •



PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

FORMAT PENCATATAN

Bidang Pelayanan Medis Khusus tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada  primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup

NO

1

   L    A    G    G    N    A    T    N    A    N    I    L    A    S    R    E    P

2

NAMA PASIEN / UMUR

NO. RM

DOKTER OPERATOR

3

4

5

INDIKASI SC

 JUMLAH PRIMIGRAVIDA USIA KEHAMILAN 37-42 MINGGU DENGAN BAYI POSISI NORMAL  TUNGGAL HIDUP BULAN INI

KET

6

7

8

1 2 3

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 5 : Penggunaan antibiotik dan pengobatan

lainnya

 JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR  TUJUAN

Related to JCI’s Library Of Measures, I-AMI-2 :  Aspirin prescribed at discharge for patients who had an acute myocardial infarction Aspirin diresepkan untuk pasien dengan acute myocardial  infarction (AMI) saat pulang / keluar rumah sakit Struktur

Proses

√ Outcome

Proses & Outcome

Untuk mengetahui kualitas pelayanan pasien AMI, sebab terapi Aspirin pada pasien yang menderita acute myocardial infarction (AMI) dapat mengurangi

QPS Klinik 9

DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

resiko adverse events dan kematian Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). acute myocardial infarction (AMI) adalah kematian otot jantung akibat suplai darah tidak cukup untuk jantung, acute myocardial infarction (AMI) diidentifikasi dengan kode ICD dalam Lampiran A, Tabel 1.1. Aspirin diresepkan untuk pasien dengan acute myocardial infarction (AMI) pada saat pulang / keluar rumah sakit yang dimaksud adalah hasil ukur check dokumen bahwa setiap pasien acute myocardial infarction (AMI) pada saat pulang / keluar rumah sakit dalam keadaan hidup harus diresepkan Aspirin . Penelitian menunjukkan bahwa Aspirin dapat mengurangi resiko adverse dan kematian sebesar 20%. Pedoman klinis sangat events merekomendasikan penggunaan Aspirin dalam periode waktu yang lama untuk pencegahan sekunder terhadap kejadian serangan jantung susulan pada pasien dengan AMI saat pasien tersebut pulang / keluar rumah sakit.  Jumlah pasien AMI yang diresepkan Aspirin saat pasien pulang / keluar rumah sakit dalam satu bulan (orang) : Jumlah seluruh pasien AMI yang pulang / keluar rumah sakit dalam bulan yang sama (orang) x 100%  Jumlah pasien AMI yang diresepkan Aspirin saat pasien pulang / keluar rumah sakit dalam satu bulan  Jumlah seluruh pasien AMI yang pulang / keluar rumah sakit dalam bulan yang sama 100% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam medis pasien dengan AMI setelah pasien keluar rumah sakit. Pasien dengan AMI Pasien yang meninggal pada saat masuk rumah sakit Pasien dengan dokumentasi Alasan Tanpa Aspirin saat MRS Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setelah pasien keluar dari Rawat Inap untuk semua pasien AMI. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Bidang Pelayanan Medis, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu • •

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Instalasi Rawat Inap Bidang Pelayanan Medis

FORMAT PENCATATAN N O

 TANGGA L

NAMA / UMUR

NO. RM

DIAGNOSA MEDIK 

 TANGGAL /  JAM KRS

DIRESEPKAN ASPIRIN SAAT PULANG / KRS (ya/tidak)

KET

1

2

3

4

5

6

7

9

1 2 3 Verifikasi

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 6 : Kesalahan obat dan kejadian nyaris

cedera QPS Klinik 9

 JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR  TUJUAN

DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING

KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN

ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Kesalahan Penulisan Resep (Prescription Errors) Struktur Proses Proses & Outcome √ Outcome 1. Tergambarnya upaya rumah sakit dalam mencegah kesalahan penulisan resep, untuk mengantisipasi terjadinya kejadian nyaris cedera dalam pengobatan. 2. Terwujudnya ketepatan penyiapan obat oleh Instalasi Farmasi dan keselamatan penggunaan obat bagi pasien Resep Merupakan permintaan tertulis dari dokter kepada apoteker untuk menyiapkan obat dan alat kesehatan bagi pasien dan ditulis secara lengkap dan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahan interpretasi. Kesalahan Penulisan Resep /Prescription Errors adalah kesalahan penulisan resep oleh dokter yang meliputi ketidaklengkapan dan ketidakkejelasan aturan pakai, bentuk sediaan, dosis dan paraf  dokter. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien dengan kebijakan Instalasi Farmasi tentang Keselamatan Pasien dalam mengurangi insiden yang meliputi kejadian yang tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC), Kejadian Sentinel, dan langkahlangkah yang harus dilakukan oleh apoteker dan tenaga farmasi, pasien dan keluarga jika terjadi insiden. Jumlah Kesalahan Penulisan Resep (Prescription Errors) dalam satu bulan (item) : Jumlah seluruh Prescription order  dalam bulan yang sama (item) x 100% Jumlah Kesalahan Penulisan Resep (Prescription Errors) dalam satu bulan Jumlah seluruh Prescription order dalam bulan yang sama 0% Pengumpulan data dilakukan dengan purposive sampling (besar sampel 200/ bulan), yaitu dengan melihat adanya ketidakkejelasan aturan pakai, bentuk sediaan, dosis dan paraf dokter pada setiap resep yang digunakan sebagai sampel. Seluruh Prescription order  Resep obat yang ditunda Pencatatan dilaksanakan setiap hari oleh staf Instalasi Farmasi dengan melihat adanya ketidakkejelasan aturan pakai, bentuk sediaan, dosis dan paraf dokter pada setiap resep, sampai jumlah sampel terpenuhi setiap bulannya. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Instalasi Farmasi sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Farmasi Kepala Instalasi Farmasi

FORMAT PENCATATAN NO

1

   L    A    G    G    N    A    T

2

NAMA PASIEN

3

NO. RM

4

RUANGAN

5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Verifikasi

QPS Klinik 9

NAMA OBAT

6

 JENIS PRESCRIPTION ERRORS (KESALAHAN PENULISAN RESEP) PARAF DOKTER

BENTUK  SEDIAAN

DOSIS

ATURA N PAKAI

7

8

9

10

KET

11

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 7 : Penggunaan anestesi dan sedasi  JUDUL INDIKATOR Pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien praoperasi elektif dengan anesthesi umum TIPE INDIKATOR Struktur Outcome Proses & Outcome √ Proses  TUJUAN Mengetahui kinerja dokter anesthesi dalam melaksanakan prosedur persiapan pra-anasthesi, untuk menghindari insiden keselamatan pasien dalam hal anethesi. DEFINISI Pengkajian pra-anesthesi adalah dimana ahli anestesia melaksanakan OPERASIONAL penentuan status medis pasien, membuat rencana pengelolaan anestesi dan memberi informasi tindakan anestesia kepada pasien dan atau keluarganya. Pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien pra-operasi elektif dengan anesthesi umum adalah semua pasien operasi elektif  dengan general anasthesi harus menerima penilaian pra anestesi sebelum operasi dengan format pengkajian yang lengkap dan benar. ALASAN/ IMPLIKASI/ Seseorang yang memenuhi kualifikasi melaksanakan asesmen RASIONALISASI praanestesi, sebagai dasar untuk menentukan proses perencanaan anestesia dan sedasi yang aman dan sesuai. Perencanaan anasthesi yang baik dapat mengurangi insiden keselamatan pasien selama menjalani operasi. FORMULA Jumlah pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien praoperasi elektif dengan anesthesi umum dalam satu bulan (orang) :  Jumlah seluruh pasien pra-operasi elektif dengan anesthesi umum dalam bulan yang sama (orang) x 100% NUMERATOR Jumlah pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien praoperasi elektif dengan anesthesi umum dalam satu bulan DENOMINATOR Jumlah seluruh pasien pra-operasi elektif dengan anesthesi umum dalam bulan yang sama  TARGET 100% SAMPLING Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, dengan mengidentifikasi seluruh kegiatan operasi yang dilaksanakan, data didapatkan dengan sumber sekunder rekam medis untuk format pengkajian pra anesthesia. KRITERIA INKLUSI Seluruh pasien operasi elektif dengan General Anasthesi KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN Setiap hari kerja (Senin sampai dengan Sabtu), oleh staf Instalasi Bedah Sentral (IBS), OK IRD, OK WA ANALISA & Setiap bulan oleh staf Instalasi Bedah Sentral (IBS), OK IRD, OK WA PELAPORAN

QPS Klinik 9

AREA PIC

Instalasi Bedah Sentral (IBS), OK IRD, OK WA Bidang Pelayanan Medis

FORMAT PENCATATAN

N O

1

   L    A    G    G    N    A    T

2

NAMA PASIEN

NO. RM

DIAGNOSA MEDIS / TINDAKAN OPERASI

PENGKAJIAN PRA-ANASTHESI (ya/tidak)

KET

3

4

5

6

7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 ds t

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 8 : Penggunaan darah dan produk-produk 

darah  JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

Monitoring tidak terpakainya produk darah yang sudah di order Struktur Proses Outcome √ Proses & Outcome Tergambarnya manajemen rasionalisme penggunaan produk darah di RSUP Sanglah Produk darah adalah komponen darah yang digunakan untuk memberikan therapy kebutuhan darah pasien di rumah sakit.  Tidak terpakainya produk darah yang sudah di order adalah jumlah darah yang sudah disorder yang setelah dilakukan pemeriksaan darah serta crossmatch, sesuai dengan indikasi klinis namun tidak terpakai karena beberapa penyebab yang mendukung. Darah harus dipesan sesuai dengan diagnosis klinis dan harus digunakan dalam  jangka waktu yang ditentukan. Unit Transfusi Darah bertanggung jawab terhadap pelayanan transfusi darah di Rumah Sakit dan melakukan pemeriksaan crossmatch sebelum darah diberikan kepada Pasien. Unit ini harus selalu memiliki stock darah yang telah aman (non reaktif pada uji saring) yang berasal dari Bank Darah setempat. Bank Darah-RS yang memilki tanggung jawab menyiapkan darah aman yang berasal dari donor darah sukarela yang memiliki resiko rendah terhadap penyakit infeksi serta melakukan pemeriksaan uji saring. Jika angka tidak terpakainya produk darah yang sudah diorder cukup tinggi maka akan menyebabkan terbuangnya biaya untuk pemeriksaan cross match dan golongan darah, serta terganggunya stock darah yang harusnya tersedia di bank darah. Ketersediaan produk darah harus dilaksanakan dengan menejemen yang baik, dan tertuang dalam standar COP 3.3, dengan elemen QPS Klinik 9

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

pemantauan : 1. Penanganan, penggunaan, dan pemberian darah dan produk darah dipandu oleh kebijakan dan prosedur yang tepat. 2. Darah dan produk darah diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur. Jumlah darah yang tidak dipakai setelah diorder dalam satu bulan (kantong) : Jumlah seluruh darah yang diorder dalam bulan yang sama (hitung per-kantong) x 100% Jumlah darah yang tidak dipakai setelah diorder dalam satu bulan (kantong) Jumlah seluruh darah yang diorder dalam bulan yang sama (hitung per-kantong) ≤10% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan mencatat seluruh darah yang diorder Seluruh darah yang diorder Pencatatan dilaksanakan setiap hari oleh staf Bank Darah dengan mencatat adanya darah yang tidak dipakai setelah diorder setiap bulannya. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Bank Darah sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Seluruh area perawatan pasien yang dilakukan transfusi Kepala Bank Darah

FORMAT PENCATATAN NO

1

   L    A    G    G    N    A    T

NAMA PASIEN

NO. RM

 JENIS  TRANSFUSI

 JUMLAH KANTONG DARAH YANG DIORDER

3

4

5

6

2

APAKAH ADA DARAH  YANG SUDAH DIORDER NAMUN  TIDAK DIPAKAI (ya/tidak)

 JIKA YA, BERAPA  JUMLAH DARAH  YANG TIDAK   TERPAKAI

KET  JENIS REAKSI

7

8

9

1 2 3 4 5 6 7 8 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 9 : Ketersediaan, isi, dan penggunaan

catatan tentang pasien  JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/

Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medik 24 jam Sejak  Setelah Selesai Pelayanan Rawat Inap Struktur Proses Proses & Outcome √ Outcome Tergambarnya tanggung jawab staf medis dalam kelengkapan informasi rekam medik Rekam medik yang lengkap adalah rekam medik yang lengkap diisi oleh staf medis yang meliputi : identitas pasien, riwayat keluar masuk, resume dan instruksi dokter (dinyatakan lengkap/tidak lengkap oleh petugas IRM). Rekam medik harus disetor ke IRM selambat-lambatnya 24 jam setelah selesai pelayanan rawat inap Sesuai dengan UU Hukum Kesehatan No. 44 tahun 2008, UU Praktek QPS Klinik 9

RASIONALISASI

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Kedokteran No. 28 tahun 2008, UU Rekam Medis hukum No. 269 tahun 2008. Tujuan Rekam Medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan. Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar, maka tertib administrasi tidak akan berhasil. Sehingga kelengkapan rekam medis harus dipastikan dan dipatuhi untuk dilaksanakan. Rekam medis adalah bukti satusatunya pelayanan kesehatan yang diberikan di rumah sakit Rekam medis harus benar, lengkap, terkini dan tepat waktu. Rekam medis juga merupakan skema asuransi kesehatan publik (Jamkesmas). Rata-rata ada 2 kasus per minggu yang tertunda pelayanan kesehatan saat rawat jalan dipoliklinik karena ketidaklengkapan rekam medis saat pasien pulang setelah rawat inap. Jumlah rekam medik yang tidak lengkap diisi oleh staf medis dalam 24 jam untuk pasien pulang rawat inap dalam satu bulan (orang) :  Jumlah pasien yang dinyatakan telah selesai pelayanan rawat inap dalam bulan yang sama (orang) x 100% = ___% Jumlah rekam medik yang tidak lengkap diisi oleh staf medis dalam 24 jam untuk pasien pulang rawat inap dalam satu bulan (orang) Jumlah pasien yang dinyatakan telah selesai pelayanan rawat inap dalam bulan yang sama (orang) ≤5% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan mencatat seluruh ketidaklengkapan rekam medis untuk pasien pulang rawat inap dalam satu bulan Seluruh pasien yang dinyatakan telah selesai pelayanan rawat inap Pencatatan dilaksanakan setiap hari oleh Staf Instalasi Rekam Medik dengan mencatat adanya ketidaklengkapan rekam medis untuk pasien pulang rawat inap setiap bulannya. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Instalasi Rekam Medik sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Rekam Medik Kepala Instalasi Rekam Medik

FORMAT PENCATATAN

   L    A    G    G    N    A    T

NO

1

2

NAMA PASIEN

NO. RM

DIVISI DPJP

RUANG PERAWATAN

KELENGKAPAN (lengkap/tidak lengkap)

DIKIRIM 24 JAM SELETAH BPL (ya/tidak)

KET

3

4

5

6

7

8

9

1 2 3 4 5 6 7 8 9 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS

3. Klinik 10 : Pencegahan dan pengendalian, QPS Klinik 9

pengawasan, serta pelaporan infeksi Related to JCI’s Library Of Measures, I-NSC-2 : Patients that have hospital-acquired (nosocomial)  pressure ulcer(s) (category/stage II) on the day of the  prevalence study   JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Angka kejadian dekubitus grII/Lebih akibat perawatan di rumah sakit Struktur Proses Proses & Outcome √ Outcome  Tergambarnya kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit terhadap pencegahan insiden dekubitus Dekubitus merupakan sebuah ulkus akibat tekanan yang terlokalisir pada kulit dan / atau pada dasar jaringan yang biasanya terjadi pade area tonjolan tulang, sebagai akibat dari tekanan, atau tekanan yang dikombinasi dengan pergeseran dan / atau gesekan (National Pressure Ulcer Advisory Panel, NPUAP, 2009). Insiden dekubitus akibat perawatan di rumah sakit ditemukan atau didokumentasikan setelah 24 jam pertama sejak mulai waktu rawat inap. Dekubitus merupakan insiden yang disebabkan oleh kualitas pelayanan keperawatan yang buruk, sehingga pemantauan sangat diperlukan untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi kualitas pelayanan keperawatan. Insiden dekubitus dilaporkan berkisar antara 2,7 persen sampai dengan 29,5 persen dalam berbagai studi klinis.  Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi yang berusia ≥18 tahun dalam jangka waktu tertentu (orang) : Jumlah seluruh pasien baru yang berusia ≥18 tahun dalam periode yang sama x 100%  Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi yang berusia ≥18 tahun dalam jangka waktu tertentu  Jumlah seluruh pasien baru yang berusia ≥18 tahun dalam periode yang sama ≤2.7% Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan dengan Quick Survey dengan menggunakan purposive sampling (dengan proporsi populasi) pada periode survey sesuai dengan kriteria inklusi 1. Insiden dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi, pasien berusia ≥ 18 tahun 2. Semua pasien baru setelah 24 jam MRS 1. Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun 2. Pasien dengan Ulkus Dekubitus yang didapat di luar rumah sakit 3. Pasien yang menolak dilakukan pengkajian 4. Pasien yang kondisinya tidak stabil (hemodinamik, nyeri tidak terkontrol) 5. Pasien terminal, kebidanan (Post Partum dan SC tanpa komplikasi) Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setiap ada pasien baru dengan risiko dekubitus. Data diukur dengan melihat secara langsung ke pasien. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Rawat Inap

Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan

QPS Klinik 9

FORMAT PENCATATAN

NB : data yang dimasukkan dalam format ini hanya pasien sesuai dengan kriteria inklusi NO

1

   L    A    G    G    N    A    T

2

NAMA PASIEN BAR

3

NO. RM

DIAGNOSA MEDIS

KEJADIAN DEKUBITUS grII/LEBIH (ya/tidak)

 JIKA YA PADA KOLOM 6,  TERIDENTIFIKASI HARI KE BERAPA? (hari ke ___)

KET

4

5

6

7

9

1 2 3 4 5 dst

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 11 : Penelitian klinis  JUDUL INDIKATOR Kelengkapan Informasi Untuk Mendapatkan Persetujuan TIPE INDIKATOR  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI

Pasien Pada setiap Penelitian Klinis Struktur Outcome √ Proses

Proses & Outcome

 Tergambarnya kegiatan evaluasi kelengkapan informasi persetujuan pasien pada setiap penelitian klinis yang memberikan jaminan keamanan dan keselamatan pasien Penelitian klinis adalah penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai penelitian. Setiap penelitian klinis harus dilakukan informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit, untuk memastikan subjek penelitian pasien mengetahui bahwa : 1. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan bahwa pasien boleh menolak menjadi subjek penelitian 2. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan boleh mengundurkan diri pada saat penelitian berlangsung, yang tidak akan berdampak terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. 3. Apabila pasien menyetujui untuk dijadikan subjek penelitian maka, pasien harus diberikan informasi : a. Keterangan siapa orang yang meneliti b. Maksud dan tujuan penelitian c. Prosedur kerja penelitian d. Efek samping penelitian e. Risiko penelitian f. Tindak lanjut jika terjadi insiden saat dilaksanakan penelitian g. Pernyataan persetujuan pasien untuk digunakan sebagai subjek penelitian Informasi persetujuan dinyatakan lengkap jika seluruh (100%) elemen ada pada setiap proposal penelitian klinis, dengan melihat dokumen checklist yang dilakukan oleh bagian Diklit. Sebagai rumah sakit pendidikan ada 50-80 dokter setiap tahunnya melaksanakan penelitian klinis sebelum akhir studi mereka, dan 50-60% akan mengusulkan penelitian klinis di Rumah Sakit Sanglah. Berdasarkan proposal penelitian tinjauan klinis pada informasi penelitian klinis untuk persetujuan pasien menemukan bahwa 100% tidak memberikan informasi yang lengkap mengacu pada persyaratan yang ditetapkan RS. Sebagian besar memberikan informasi hanya untuk meminta bergabung dengan penelitian Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai penelitian memungkinkan terjadinya cedera pada pasien, sehingga rumah sakit berkewajiban untuk memastikan penelitian klinis tersebut aman bagi pasien, serta memberikan informasi yang lengkap melalui informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit.  Jumlah penelitian klinis yang memiliki informasi persetujuan pasien lengkap dalam satu bulan (proposal) : Jumlah seluruh penelitian klinis dalam bulan yang sama (proposal) x 100% = ___%  Jumlah penelitian klinis yang memiliki informasi persetujuan pasien lengkap dalam satu bulan  Jumlah seluruh penelitian klinis dalam bulan yang sama ≥80% Pengumpulan data dilakukan dengan total, yaitu dengan melihat seluruh proposal penelitian klinis yang akan dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subyek penelitian melalui intervensi klinik

QPS Klinik 9

KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Penelitian yang bersifat survey/observasi dan tidak melaksanakan intervensi pasien secara klinis Pencatatan dilaksanakan oleh staf Bagian Diklit dengan melihat seluruh proposal penelitian klinis yang akan dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Bagian Diklit sebagai informasi awal untuk bagiannya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Semua area klinik Ka. Bagian Diklit

FORMAT PENCATATAN NO

1

   L    A    G    G    N    A    T

NAMA PENELITI/ INSTITUSI

3

2

NO. IJIN PENELITIAN

 JUDUL INDIKATOR PENELITIAN

 JENIS INTERVENSI PASIEN

NAMA PASIEN  YANG DILIBATKAN/ UNIT

KELENGKAPAN INFORMASI PERSETUJUAN DALAM PROPOSAL (ya/tidak)

KET

4

5

6

7

8

9

1 2 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS 3. Klinik 11 : Penelitian klinis  JUDUL INDIKATOR  Jumlah Rekap Informed Consent yang Kembali Ke Bagian

Penelitian dan Pengembangan Seluruh Subjek Penelitian Klinis TIPE INDIKATOR  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

Struktur

Proses

RSUP Sanglah, untuk 

Outcome

√ Proses & Outcome

 Tergambarnya kegiatan pemberian informed consent pasien pada setiap penelitian klinis yang memberikan jaminan keamanan dan keselamatan pasien Penelitian klinis adalah penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai penelitian. Setiap penelitian klinis harus dimintakan informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit, untuk memastikan subjek penelitian pasien mengetahui bahwa : 1. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian 2. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan boleh menolak sebelum penelitian berlangsung, yang tidak akan berdampak terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. 3. Apabila pasien menyetujui untuk dijadikan subjek penelitian maka, pasien harus diberikan informasi : a. Keterangan siapa orang yang meneliti b. Maksud dan tujuan penelitian c. Prosedur kerja penelitian d. Efek samping penelitian e. Risiko penelitian f. Tindak lanjut (pengamanan) jika terjadi insiden saat dilaksanakan penelitian g. Pernyataan persetujuan pasien untuk digunakan sebagai subjek penelitian Informasi persetujuan dinyatakan lengkap jika seluruh (100%) elemen ada pada setiap proposal penelitian klinis, dengan melihat dokumen checklist yang dilakukan oleh bagian Litbang RSUP Sanglah Denpasar. Pada prosedurnya informed consent harus mengembalikan informed consent ke Bagian Litbang sebagai bukti telah melaksanakan penelitian Sebagai rumah sakit pendidikan ada 50-80 dokter setiap tahunnya melaksanakan penelitian klinis sebelum akhir studi mereka, dan 50-60% akan mengusulkan penelitian klinis di Rumah Sakit Sanglah. Berdasarkan proposal penelitian tinjauan klinis pada informasi penelitian klinis untuk persetujuan pasien menemukan bahwa belum ada pemantauan yang dapat membuktikan jika 100% pasien yang digunakan sebagai subjek penelitian klinis tidak memberikan informasi yang lengkap mengacu pada persyaratan yang ditetapkan RS. Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai

QPS Klinik 9

penelitian memungkinkan terjadinya kejadian tidak diinginkan pada pasien, sehingga rumah sakit berkewajiban untuk memastikan penelitian klinis tersebut aman bagi pasien, serta memberikan informasi yang lengkap melalui informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit.

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISIS & PELAPORAN

AREA PIC

 Jumlah Rekap Informed Consent yang Kembali Ke Bagian Penelitian dan Pengembangan RSUP Sanglah, untuk Seluruh Subjek Penelitian Klinis (orang) :  Jumlah seluruh subjek penelitian klinis dalam satu bulan (orang) x 100% = ___%  Jumlah Rekap Informed Consent yang Kembali Ke Bagian Penelitian dan Pengembangan RSUP Sanglah, untuk Seluruh Subjek Penelitian Klinis (orang)  Jumlah seluruh subjek penelitian klinis dalam satu bulan (orang) ≥90% Pengumpulan data dilakukan dengan cara total sampling, yaitu dengan melihat seluruh informed consent subjek penelitian klinis yang dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui in tervensi klinik Penelitian yang bersifat survey/observasi dan tidak melaksanakan intervensi pasien secara klinis Pencatatan dilaksanakan oleh staf Bagian Litbang dengan melihat seluruh informed consent subjek penelitian klinis yang akan dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Rekapitulasi dan analisis sederhana dilaksanakan oleh Kepala Bagian Litbang sebagai informasi awal untuk bagiannya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Semua area klinik Ka. Diklit RSUP Sanglah

FORMAT PENCATATAN

   L    A    G    G    N    A    T

NO

1

NAMA PENELITI/ INSTITUSI

NO. IJIN PENELITIAN

 JUDUL PENELITIAN

 JENIS INTERVENSI PASIEN

 JUMLAH PASIEN  YANG AKAN DIGUNAKAN SEBAGAI SUBJEK  PENELITIAN

3

4

5

6

7

2

 JUMLAH INFORMED CONSENT SUBJEK YANG DIKEMBALIKAN KE LITBANG

KET

8

9

1 2 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK  STANDAR QPS

3. Klinik 10 : Pencegahan dan pengendalian, pengawasan, serta pelaporan infeksi

Related to JCI’s Library Of Measures, I-NSC-2 : Patients that have hospital-acquired (nosocomial)  pressure ulcer(s) (category/stage II) on the day of the  prevalence study   JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR  TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

Angka kejadian dekubitus grII/Lebih akibat perawatan di rumah sakit Struktur Proses Proses & Outcome √ Outcome  Tergambarnya kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit terhadap pencegahan insiden dekubitus Dekubitus merupakan sebuah ulkus akibat tekanan yang terlokalisir pada kulit dan / atau pada dasar jaringan yang biasanya terjadi pade area tonjolan tulang, sebagai akibat dari tekanan, atau tekanan yang dikombinasi dengan pergeseran dan / atau gesekan (National Pressure Ulcer Advisory Panel, NPUAP, 2009). Insiden dekubitus akibat perawatan di rumah sakit ditemukan atau didokumentasikan setelah 24 jam pertama sejak mulai waktu rawat inap. Dekubitus merupakan insiden yang disebabkan oleh kualitas pelayanan keperawatan yang buruk, sehingga pemantauan sangat diperlukan untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi kualitas pelayanan keperawatan.

QPS Klinik 9

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR  TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

FORMAT PENCATATAN

Insiden dekubitus dilaporkan berkisar antara 2,7 persen sampai dengan 29,5 persen dalam berbagai studi klinis.  Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi dalam  jangka waktu tertentu (orang) : Jumlah seluruh pasien baru dengan faktor risiko dekubitus (berdasarkan skala Braden, skor ≤ 14) yang berusia ≥18 tahun dalam periode yang sama x 100%  Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi dalam  jangka waktu tertentu  Jumlah seluruh pasien baru dengan faktor risiko dekubitus berdasarkan skala Braden, skor ≤ 14) yang berusia ≥18 tahun dalam periode yang sama ≤2.7% Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan dengan Quick Survey dengan menggunakan purposive sampling (dengan proporsi populasi) pada periode survey sesuai dengan kriteria inklusi 3. Insiden dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi, pasien berusia ≥18 tahun (dengan faktor risiko dekubitus) 4. Semua pasien baru setelah 24 jam MRS 6. Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun 7. Pasien dengan Ulkus Dekubitus yang didapat di luar rumah sakit 8. Pasien yang menolak dilakukan pengkajian 9. Pasien yang kondisinya tidak stabil (hemodinamik, nyeri tidak terkontrol) 10. Pasien terminal, kebidanan (Post Partum dan SC tanpa komplikasi) 11. PAsien yang di kaji dengan Skala Braden, skor > 14 Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setiap ada pasien baru dengan risiko dekubitus. Data diukur dengan melihat secara langsung ke pasien. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Rawat Inap

Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan NB : data yang dimasukkan dalam format ini hanya pasien sesuai dengan kriteria inklusi (berdasarkan skala Braden, skor ≤ 14) NO

1

   L    A    G    G    N    A    T

2

NAMA PASIEN BAR

3

NO. RM

DIAGNOSA MEDIS

KEJADIAN DEKUBITUS grII/LEBIH (ya/tidak)

 JIKA YA PADA KOLOM 6,  TERIDENTIFIKASI HARI KE BERAPA? (hari ke ___)

KET

4

5

6

7

9

1 2 3 4 5 dst

QPS Klinik 9

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF Ko darīt, ja tava meitene kontaktējas ar savu bijušo | Live Sem Tema | Sohai Ali Abro